Ada kabar dari bursa yang pada mulanya tampak seperti urusan angka biasa. Pertengahan Agustus 2026, pasar dikejutkan oleh rumor besar: Haji Isam, lewat jhonlin-group|Jhonlin Group]], disebut-sebut bersiap mencaplok 62,25 persen saham Bayan Resources (BYAN). Nilainya tidak main-main: sekitar Rp300 triliun. Jika benar, itu bukan sekadar transaksi saham. Itu seperti bunyi lonceng panjang yang menandai sesuatu sedang bergeser.
1. Bukan Sekadar Ganti Pemilik
Selama bertahun-tahun, kita terbiasa melihat ekonomi Indonesia seperti panggung yang itu-itu saja. Nama-nama besarnya berulang. Konglomerat lama, grup lama, jaringan lama. Ada yang menyebutnya era ‘embilan naga’. […] Kini, muncul figur-figur baru yang tumbuh dari daerah, dari tambang, dari logistik, dari jasa, dari jaringan usaha yang lebih membumi, kadang dengan simbol-simbol keagamaan yang lebih kental.
2. Equilibrium Lama yang Mulai Retak
Selama kurang lebih tiga puluh tahun, Indonesia hidup dalam satu corak keseimbangan ekonomi: pasar bebas, liberalisasi, deregulasi. Ada sisi gelapnya juga: ketimpangan, penguasaan sumber daya oleh segelintir kelompok, dan ekonomi yang kadang terasa seperti kasino raksasa.
3. Persepsi yang Menjadi Reality
Di sinilah teori reflexivity menjadi relevan. George Soros pernah mengatakan bahwa pasar tidak selalu rasional. Persepsi pelaku pasar bisa memengaruhi kenyataan, dan kenyataan bisa kembali memengaruhi persepsi. Kasus BYAN adalah contoh yang sangat jelas.
4. Serangan yang Tidak Terlihat, tapi Terasa
Ada yang menyebut bahwa Indonesia pernah mengalami semacam ‘erangan empat puluh hari’. Serangannya halus: lewat opini, lewat media, lewat aktivis, lewat influencer, lewat laporan, lewat framing, lewat algoritma.
5. Dari Bursa ke Manusia
Ekonomi bukan hanya grafik di layar bursa. Ekonomi adalah soal hidup orang banyak. Di balik angka Rp300 triliun itu, ada tambang batu bara, ada lubang besar di Kalimantan, ada pekerja yang berharap gaji lancar, dan ada lingkungan yang belum tentu pulih.
6. Kudeta atau Sekadar Pergantian Musim?
Berita itu memakai kata ‘kudeta’: Dato Low mengudeta Prajogo. Namun ini adalah kudeta pasar: kudeta lewat harga saham, lewat kapitalisasi, lewat daftar kekayaan. Jika rumor akuisisi Haji Isam benar terjadi, ini menjadi permainan yang aneh antara kemenangan harga dan hilangnya kendali aset.
7. Wajah Baru, Arah Baru?
Dalam kunjungan lapangan ke tambang Bayan, Dahlan Iskan mencatat kehadiran dua sosok muda yang mendampingi tokoh besar. Ini menandakan regenerasi dan kemungkinan adanya konsolidasi baru di dunia tambang yang mungkin lebih bersifat lokal atau membumي.
8. Menuju Ekonomi Konstitusi?
Mungkin ada jalan lain yang lebih cocok untuk Indonesia: ekonomi konstitusi. Ekonomi yang tidak menyerahkan segalanya pada pasar, tetapi juga tidak mematasi pasar. Ekonomi yang berpijak pada Pasal 33 UUD 1945.
9. Yang Penting Bukan Hanya Nama, Tapi Arah
Istilah ‘embilan naga’ ke ‘embilan haji’ adalah metafora perpindahan pusat gravitasi ekonomi dari jaringan global ke jaringan lokal. Yang penting bukan siapa yang berada di atas, tapi apakah sistemnya ikut berubah menjadi lebih berpihak pada rakyat.
10. Penutup: Belajar dari Satu Berita Kecil
Perubahan zaman datang lewat transaksi, rumor, dan perpindahan kepemilikan. Pertanyaan besarnya tetap sama: Untuk siapa sebenarnya ekonomi ini bekerja?
